Mendesain Rumah Tumbuh

Rumah Tumbuh, Antara Angan dan Realita

Klien yang datang ke studio saya sudah banyak yang membawa ide tersebut, ada yang memang desainnya bisa mengadaptasi konsep rumah tumbuh tetapi ada juga yang nantinya malah memberatkan. 

Lho kok bisa begitu? Bila desainnya memang sudah dipersiapkan sejak dari awal dan lahannya mendukung tentu semua tidak masalah, tetapi apabila bangunan lama sudah ada maka belum tentu ia bisa menopang desain lanjutannya atau lahan yang memang kurang sehingga desain ini belum cocok untuk diterapkan.


Agar para pembaca bisa mendapatkan gambaran yang lebih baik mengenai kelayakan desain ini maka dibawah ini ada beberapa hal yang menarik untuk diketahui, diantaranya: bagaimana konsep rumah tumbuh itu, alasan apa yang melatar belakanginya, apa-apa saja kelebihan dan kekurangannya, kondisi apa saja yang perlu diperhatikan dan bagaimana peran arsitek dalam hal tersebut.


Konsep

Rumah tumbuh menurut saya tidak harus selalu tumbuh keatas, dia bisa juga kesamping (tunas), beralih fungsi dan apapun juga yang memang direncanakan untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan atau penambahan kebutuhan ruang penghuni/pemakainya di kemudian hari (IMHO).

Sebuah desain rumah yang dapat tumbuh (tentunya berupa kiasan) secara bertahap sebagian demi sebagian baik secara horizontal maupun vertikal. Secara horizontal apabila pengembangannya semisal menambah bangunan baru di bagian lahan rumah yang masih kosong, bisa kesamping kiri kanan ataupun depan belakang. Secara vertikal apabila pengembangannya berupa penambahan jumlah lantai keatas, dari satu lantai menjadi dua lantai dll dsb.



Rumah tumbuh?


Alasan

Alasannya beragam, dari mulai ukuran keluarga yang nantinya akan bertambah (ketambahan ortu, anak, saudara, pembantu dll), kesibukan mendatang yang membutuhkan penambahan ruangan, dan momok paling umum yaitu - ketersediaan anggaran.


Kakek, nenek, bapak, ibu, kakak, adik...

Serta hal lainnya lagi yang mungkin belum tersebutkan diatas....


Kelebihan dan kekurangan (IMHO)

Kelebihannya:
  • Ongkos pembangunan bisa dicicil, tidak perlu sekaligus perlu dana besar diawal, bisa disesuaikan dengan pendapatan yang rutin didapat.
  • Perawatan rumah menjadi lebih ringan, jumlah ruangan disesuaikan dengan banyaknya penghuni dan kebutuhan ruangannya.
  • Desain rumah mampu berkembang dan mengikuti kebutuhan jauh kedepan sesuai yang diperkirakan.

Kekuarangannya:
  • Total biaya keseluruhan akan lebih besar (baca lebih jelas dibawah).
  • Desain tidak bisa terlalu bebas bermain, banyak batasan-batasan yang harus diikuti agar ketika berlanjut nanti desain sebelumnya harus siap untuk bisa diteruskan,
  • Kurang nyaman karena sebelum semua ruangan selesai, beberapa kegiatan harus menumpang di ruangan-ruangan awal tersebut.
  • Wajah bangunan menjadi tidak menarik karena baru sebagian saja yang selesai.


Kondisi

Usahakan pengembangan horizontal sebagai pilihan pertama, kenapa? bangunan yang dicicil bisa diselesaikan dulu secara keseluruhan, dari mulai lantai hingga atap dan ditempati. 

Pondasi & struktur untuk beban satu lantai butuh biaya yang lebih murah, jadi membangunnya bisa dapat lebih banyak, anggap sampai semua kamar selesai, sisanya baru ruang servis dan pendukung lainnya.


Beda dengan vertikal, karena untuk menyiasati keterbatasan lahan maka dia harus dibangun keatas, pondasi dan strukturnya harus siap untuk menopang beban dua lantai, plus faktor keamanan terhadap gempa jadi harus lebih kuat daripada yang satu lantai tadi. 


Tentunya ongkosnya menjadi lebih mahal sehingga mampunya bertahap, yaitu lantai dasar dahulu dan berhenti hingga sampai dak beton lantai atas, sekalian menjadi atap sementara hingga tahap dua diselesaikan.

Biasanya ruang bawah hanya cukup untuk ruangan aktifitas harian (area publik) dan ruangan istirahat/kamar tidur (area privat) hanya bisa dilantai atas, dari yang sudah-sudah nantinya sering timbul masalah kekurangan kamar tidur, karena semuanya baru ada nanti di lantai atas. Alhasil bangunannya malah batal ditempati, dibiarkan kosong sampai selesai tahap berikutnya.

Ini semua dari yang selama ini saya temui, jadi mendesain rumah tumbuh itu tidak bisa asal mendesain saja, kasus diatas saya harapkan bisa menjadi bahan untuk membantu menentukan strategi anda.





Arsitek dan perannya mendesain rumah tumbuh

Banyak yang datang ke saya ternyata bangunannya sudah ada dan mau dikembangkan agar siap menjadi rumah tumbuh, tak jarang pula bentuk awalnya minim sentuhan perencanaan arsitektur. Sudah banyak tambahan disana-sini yang malah seringnya jadi membingungkan dan akhirnya baru minta arsitek membantu menyelesaikannya. 

Jangankan klien yang punya rumah, arsitek bukan dewa, saya pun kadang sampai pusing dibuatnya. Sayang rasanya menemukan dinding atau ruangan yang secara desain sudah tidak sesuai untuk dihubungkan dengan fungsi dan ruang tambahannya.


Jadilah mau tidak mau harus ada yang dibongkar, apalagi untuk desain vertikal. Strukturnya harus diperkuat, diperbaiki dulu dll dsb. Mbok ya o dulu pake arsitek toh? bila alasannya mahal justru sebenarnya sekarang ini malah jauh lebih mahal. Bongkar sana sini lalu tidak terpakai dan dibuang (kalaupun ada yang ingin digunakan ulang bisa dapat mencapai 50% saja sudah bagus), alamak.


Desain perencanaan yang matang, sebuah master desain keseluruhan yang dipersiapkan untuk dibangun bertahap akan sangat bisa menghemat investasi anda dalam membangun. Merenovasi itu tidak lebih murah daripada membangun dari nol, anda nantinya akan kena tiga pekerjaan; bongkar, buang dan bangun. Kalau terencana baik cuma satu, yaitu bangun saja.

kunjungi juga website Jasa arsitek Bandung saya :)

Comments