10 Hal Yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Membuat Rumah Dengan Kontainer

Kontainer Untuk Rumah Tinggal


Kontainer sebagai alternatif desain rumah tinggal yang lebih ekonomis, benarkah? Sebelum kita memutuskan menggunakannya, coba uji kelayakannya dengan ke-10 hal ini terlebih dahulu


1. Perhatikan dimana anda bisa mendapatkan kontainer, lalu seberapa jauh ke lokasi bangunan anda, jika jaraknya dekat dan mudah untuk pengantaran maka ini bisa menjadi nilai plus buat kelayakan anda.

Hal lainnya adalah, bagaimana nanti kontainer diantarkan dan dibongkar? apakah trailer, crane atau forklift besar diperbolehkan masuk ke lokasi anda? membawa kontainer butuh trailer, menurunkannya butuh crane atau forklilft tadi, pastikan bahwa mereka bisa masuk / mencapai lokasi anda.

Bisa juga anda potong-potong kontainernya, tapi kan sayang, masak kontainernya penuh sambungan.




2. Kontainer biasanya sudah pernah digunakan untuk mengirim berbagai barang, mulai dari yang aman hingga yang berbahaya. Ada resiko bahwa kontainer tersebut pernah dipakai untuk pengiriman limbah atau zat kimia beracun, kontainer seperti ini tentu tidak aman buat dijadikan tempat tinggal. 

3. Rumah itu sebenarnya hasil rekayasa yang sederhana apa adanya, dibuat dengan bahan-bahan lokal dan disesuaikan untuk beradaptasi dengan iklim lokal pula. Iklim Indonesia sebagai negara tropis, maka kita harus pandai-pandai mengolah ruang dalam kontainer agar benar bisa ditinggali, yang kita butuhkan adalah rumah tinggal yang nyaman, sejuk, segar dan sehat, bukan ruangan oven.

Harus dipikirkan bagaimana nanti pengkondisian lingkungan ruang dalamnya, insulasinya, redamannya dll dsb. Perlakuan dindingnya bisa saja jadi bertambah tebal karena butuh lapisan atau peralatan ini itu, yang mana akan memakan tempat dan lebih mempersempit ruangan.

Kita menginginkan sebuah rumah tinggal, bukan sekedar pondokan darurat di lapangan tetapi sebuah naungan yang layak ditempati.

4. Struktur, kalau anda pernah lihat bentuk-bentuk bangunan yang dibuat dari kontainer, biasanya banyak bagian-bagian yang menonjol keluar, melayang, menjulang kesana kemari. Kontainer itu pada dasarnya disiapkan untuk disusun bertumpuk keatas seperti bata Lego, sejajar keatas bukan asal kesana kemari.

Btw, lihat juga postingan saya sebelumnya mengenai Lego

Begitu kita menumpuk kontainer tidak pada ke empat sudutnya, struktur yang sudah ada itu menjadi lemah, butuh perkuatan tambahan. Kadang bisa sampai harus di duplikat menggunakan balok baja yang kuat (tebal, tinggi & mahal).

Kalau kita mau buat bukaan (pintu / jendela) di dinding kontainer, maka itu akan melemahkan strukturnya, mereka bisa jadi akan mulai bengkok, tertekuk dll. Karena dinding kontainer yang berbentuk plat bergelombang itu sama dengan prinsip monocoque - badannya adalah struktur untuk dirinya sendiri, begitu disana kita buat lubang bukaan besar, maka kekuatannya akan hilang.

Bila seperti itu maka tandanya butuh perkuatan balok baja tadi, dan itu bisa mahal. Jadi harus dipertimbangkan apakah akan masih menjadi lebih ekonomis ataukah malah menjadi lebih mahal / repot untuk ke depannya.

5. Utilitas dan sistem mekanikal, pada bangunan rumah tinggal standard, kita butuh ruangan untuk jalur-jalur pemipaan, air bersih, kotor, listrik, sistem pendinginan udara (AC) dll dll dll. Untuk Indonesia, anda tahu kan bahwa kita ada di garis khatulistiwa? tandanya benar-benar butuh pengkondisian udara, untuk pendinginan dari panas tubuh bajanya sendiri, atau bakal seperti saya bilang tadi, malah bisa jadi oven.

Kalau kita ingin tetap mempertahankan estetika bentuk kontainernya, tandanya bentuk luarnya kan sebisa mungkin harus dipertahankan, maka kita harus meletakan semua utilitas dan mekanikal tadi di bagian dalam kontainer. Ini efeknya akan lebih memakan tempat di plafond, dan memperpendek ketinggiannya karena ada pipa berseliweran di atas plafond atau dibawah lantainya.

Yang kita dapatkan nanti mungkin seperti rumah-rumah kecil di Jepang, ruang kecil fungsional dengan plafond yang pas-pas saja, dan ini tentunya kembali kepada calon penghuninya, apakah seleranya cocok atau tidak dengan yang model seperti itu.

6. Karat, karat adalah musuh utama besi dan baja, untuk kontainer ini pastikan anda berinvestasi untuk pelapisan cat dan anti karat. Kontainer ini merupakan produk yang benar-benar punya rasa 'industri', cat bawaan awal dari produk ini sudah di desain untuk tahan di tengah lautan hingga 10 tahun. Berbeda dengan cat tembok rumah anda, baik interior maupun eksterior yang konsepnya memang untuk kenyamanan rumah tinggal.

7. Ukuran kontainer, ini juga penting, kira-kira memadai tidak buat jadi tempat jeroan rumah anda? jangan sampai salah beli kontainer. Sesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran anda.

Kontainer standard ada dua, panjang 20 dan 40 feet.

Tipe 20 feet
Ukuran luar
P: 6.06 m
L: 2.44 m
T: 2.60 m

Ukuran dalam
P: 5.84 m
L: 2.35 m
T: 2.39 m

Luas: 13.3/m2
Berat: 2.2 Ton

Tipe 40 feet
Ukuran luar
P: 12.2 m
L: 2.44 m
T: 2.60 m

Ukuran dalam
P: 12.03 m
L: 2.35 m
T: 2.39 m

Luas: 28/m2
Berat: 3.8 Ton

Jenis kontainer non standard - high cube, ukuran panjangnya sama 20 dan 40 feet tapi beda ketinggian

Tipe 20 feet high cube
Ukuran dalam
P: 5.84 m
L: 2.35 m
T: 2.64 m

Tipe 40 feet high cube
Ukuran dalam
P: 12.03 m
L: 2.35 m
T: 2.64 m

Kalau bisa pilih yang high cube, agar agak lowong setelah dipasang jalur-jalur pemipaan dan listrik (mekanikal & elektrikal).

8. Kontainer bekas, murah meriah dan tidak hambur barang baru. Nggak juga... kalau anda melihat pada contoh-contoh di internet, ternyata rata-rata mereka menggunakan kontainer baru yang dibeli dari produsen Cina, yang harganya terbilang murah. Karena demi menghindari resiko bekas kargo barang berbahaya dan beracun tadi.

9. Coba cek dengan peraturan bangunan setempat, waktu dulu saya pernah dapat klien yang ingin pake kontainer (Nggak tanggung-tanggung, desainnya menggunakan 4 kontainer, 2x20 feet dan 2x40 feet), kami coba survey dan ngobrol-ngobrol dengan pihak pengurusan IMB, ternyata mereka belum punya standard yang baku untuk bangunan jenis ini. Kalau sekarang mungkin sudah ada aturan barunya.

10. Pilih kontraktor yang tepat. Ini juga penting sekali, kontraktornya harus berpengalaman dengan bangunan struktur baja, bukan yang hanya struktur beton saja. Masalah pengelasan, sumber daya, pengetahuan, prosedur dll itu semua harus dipahami oleh kontraktor pelaksananya.

Oke, sudah 10 poin kan? terima kasih sudah mampir dan jangan lupa kunjungi juga website Arsitek Bandung saya :)



Comments