Sesuatu [di/dari/tentang] WOT BATU



Afternoon Tea, 3 oktober 2015 - Wot Batu - Sunaryo, Bandung

Pada tanggal tersebut yang kira-kira sudah dua minggu lalu, saya menghadiri undangan diskusi Wot Batu nya Pak Sunaryo (Wot = jembatan dalam bahasa jawi). 

Ceitanya begini, beliau baru saja menyelesaikan karya barunya yaitu sebuah lansekap galeri batu, berlokasi di Jl. Bukit Pakar Timur, tepat sebelum Selasar Sunaryo Art Space dan sekarang ingin mengetahui bagaimana pendapat para pemerhati budaya, seni, desain dan lainnya mengenai karya tersebut.


Ide Wot Batu ini sendiri sebenarnya sudah ada sejak tahun 2012 lalu dan telah lama dalam angan-angan Pak Naryo. Karya ini merupakan hasil pembelajaran beliau akan harmoni dengan alam dan bahwasanya di alam ini tidak ada satupun yang kebetulan, semua pasti sudah ada yang mengatur dan ada pasangannya. Ada baik ada buruk, ada yin ada yang, ada pria ada wanita, kalaupun yang esa, maka dia hanya satu saja, yaitu sang pencipta. Lainnya, semuanya berpasangan (kata beliau).


Dikarenakan ingin mengetahui apresiasi masyarakat tadi, maka secara bertahap mengundang tokoh/perwakilan yang dianggap mampu memberi apresiasi dalam konteksnya dalam ranah seni. Dan sekarang giliran para arsitek mendapat kesempatan untuk turut pula membantu menterjemahkan karya Wot Batu ini dalam bahasa arsitektur.

Yang hadir disini utamanya adalah para pemerhati arsitektur, beberapa yang saya lihat diantaranya ada Sutrisno Murtioso dari LSAI (lembaga sejarah arsitektur Indonesia), Iwan Sudrajat, Jakob Sumardjo dan tentu saja Yuswadi Saliya serta seabrek arsitek lainnya & ada juga mahasiswa jurusan arsitektur dan senirupa.


Acara diawali dengan pembacaan pengantar yang materinya dibuat oleh Pak Yuswadi Saliya, beliau duduk didepan mendampingi Pak Naryo (bahkan judul diatas saya ambil dari judul tulisan beliau).





Ada empat lembar tulisan yang telah beliau buat, Pak Yuswadi rasanya memang ingin 'berdialog dengan batu', salah satu tulisannya adalah mengenai penguasaan metafora [4.3], akan kekayaan makna simbolik dari bahan batu, bahwa batu memiliki sifat-tabiat-pembawaan batu yang abadi, tua, keras, kuat, kokoh, inert...dst.


Ada juga hal lainnya berupa renungan puisi karya Sitor Situmorang (1923-2014):

"Bunga di atas batu dibakar sepi"
Beliau menerangkan mengenai puisi tersebut dalam tulisannya, "metafora membuat bahasa dan kata-kata itu bersayap untuk menjangkau pengalaman yang melampaui batas-batas fakta yang terwakili kata".

Serta masih banyak lagi yang tentunya terlalu panjang untuk diceritakan kesemuanya disini.


Diakhir acara diadakan tanya jawab yang isinya diantaranya mengenai keprihatinan akan kian memudarnya cita rasa seni yang alami. Dilontarkan oleh Sutrisno Murtioso, bahwa rasa akan seni yang kian menghilang, karena semua bisa dibuat secara produksi/buatan, sehingga dimanakah penciptaan seni yang asli itu?


Contoh; lukisan Monalisa yang saat ini tinggal di cetak printer saja, tidak lagi dirasakan urat, tekstur atau alur dalam pembuatan lukisannya. Atau para arsitek yang nyaris tidak mempergunakan tangan dalam menggambar desain/sketsa, semua bisa diselesaikan dengan AI, jadi dimana rasa dan estetika? kemudian kita ini sebenarnya apakah mengalami kemajuan, ataukah malah kemunduran?


Oke, ini hasil foto-foto keliling di lokasi



Selamat datang itu perlu :)
Pemandangan dari tempat saya duduk
Susunan batu putih ini Pak Naryo namakan Surya Mendal, karena berada di sisi timur, tempat munculnya Matahari
Pintu masuk

Lebih dekat
Maju sedikit
View ke mushalla
Pintu masuk mushalla, ingat mushalla Selasar ya?



Ada kapal, berlayar menuju infinity


















Sesaat kemudian setelah puas mengambil foto, seperti kebiasaan di selasar kalau ada acara biasanya ada sajian mie kocok + krupuk putih, ahay....


Alamat Wot Batu:
Jl Bukit Pakar Timur No. 98+1
Bandung
Agak aneh sih alamatnya...

Sip, terimakasih sudah mampir, jangan lupa 
kunjungi juga website Arsitek Bandung saya :)



Comments